Beranda / Berita / Mengapa Indonesia Gabung Board of Peace? ISI Bongkar 3 Alasan Utamanya

Mengapa Indonesia Gabung Board of Peace? ISI Bongkar 3 Alasan Utamanya

Mengapa Indonesia Gabung Board of Peace? ISI Bongkar 3 Alasan Utamanya

Hey, pembaca setia! Kalau kamu lagi ngikutin berita internasional, pasti udah denger dong soal Indonesia yang baru aja bergabung dengan Board of Peace (BoP). Ini bukan sembarang organisasi, lho. BoP ini dibentuk oleh Presiden AS Donald Trump buat ngebantu perdamaian di Gaza dan kawasan Timur Tengah. Kabar ini lagi hangat dibahas, apalagi setelah piagamnya ditandatangani di Davos, Swiss, awal 2026. Nah, Institute for Strategic Initiatives (ISI) baru-baru ini ungkap tiga alasan kenapa Indonesia memutuskan ikut gabung. Bukan cuma soal politik, tapi juga nilai-nilai dasar negara kita.

Bayangin aja, konflik Israel-Palestina udah berlarut-larut puluhan tahun, bikin banyak korban jiwa dan penderitaan. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, selalu vokal dukung Palestina. Gabung BoP ini kayak langkah nyata buat ikut serta dalam solusi global. Menurut ISI, keputusan ini strategis banget, karena diplomasi lama udah mentok. Di artikel ini, kita bakal bahas detail tiga alasan itu, plus konteksnya biar kamu paham kenapa ini penting. Siap? Yuk, lanjut baca sambil ngopi!

Apa Itu Board of Peace dan Kenapa Indonesia Terlibat?

Sebelum masuk ke alasan utamanya, yuk kita pahami dulu apa sih Board of Peace ini. BoP adalah badan internasional baru yang dibentuk Trump buat memantau stabilisasi dan rehabilitasi di Gaza. Tujuannya? Mewujudkan perdamaian abadi, termasuk solusi dua negara (two-state solution) di mana Palestina bisa merdeka berdampingan dengan Israel. Pertemuan perdananya digelar di Washington DC pada 19 Februari 2026, dan Presiden Prabowo Subianto langsung hadir mewakili Indonesia.

Kenapa Indonesia ikut? Bukan karena ikut-ikutan, tapi karena kita punya sejarah panjang dukung kemerdekaan Palestina. Dari era Soekarno sampai sekarang, Indonesia selalu konsisten tolak penjajahan. Gabung BoP ini jadi cara kita ikut mengawal prosesnya langsung, biar suara negara berkembang seperti kita didengar. ISI, sebagai lembaga riset independen, bilang ini langkah cerdas di tengah kebuntuan diplomasi dunia. Oke, sekarang langsung ke intinya: tiga alasan yang diungkap ISI.

Alasan Pertama: Implementasi Amanat Konstitusi UUD 1945

Alasan pertama yang dibongkar ISI adalah soal komitmen konstitusi kita. Ingat alinea pertama Pembukaan UUD 1945? “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.” Nah, gabung BoP ini kayak aplikasi langsung dari amanat itu. Menurut Direktur Riset ISI, Ian Montrama, Indonesia lagi nunjukin kalau kita nggak cuma omong doang soal anti-penjajahan.

Bayangin, konflik di Gaza sering digambarkan sebagai bentuk penjajahan modern. Ribuan nyawa hilang, infrastruktur hancur, dan rakyat Palestina hidup dalam ketakutan. Dengan ikut BoP, Indonesia bisa dorong penghapusan penjajahan ini secara konkret. Bukan cuma pidato di PBB, tapi ikut monitor rehabilitasi Gaza. Analoginya seperti ini: kalau rumah tetangga lagi kebakaran, kita nggak cuma nonton dari jauh, tapi ikut bantu padamin apinya.

Ini juga selaras dengan politik luar negeri bebas aktif Indonesia. Kita nggak mau diam aja saat dunia lagi chaos. Presiden Prabowo, dalam pertemuan dengan tokoh Islam di Istana, bilang ini bagian dari komitmen kita buat perdamaian Timur Tengah. Jadi, alasan ini nggak cuma teori, tapi langsung relate ke identitas bangsa kita. Kamu setuju nggak kalau ini bikin Indonesia makin disegani di kancah internasional?

Alasan Kedua: Mengatasi Kebuntuan Diplomasi Global

Nah, alasan kedua ini lebih ke masalah praktis: diplomasi dunia udah mentok banget soal Israel-Palestina. ISI bilang, sejak 1965, PBB udah keluarin 119 resolusi, tapi apa hasilnya? Nol besar! Perdamaian nyata buat Palestina masih jauh dari harapan. BoP muncul sebagai terobosan baru, kayak angin segar di tengah kemacetan itu.

Ian Montrama dari ISI jelasin, kebuntuan ini karena banyak faktor, mulai dari veto di Dewan Keamanan PBB sampai kepentingan geopolitik negara besar. Trump, dengan pendekatannya yang “deal-maker”, bentuk BoP buat bypass itu semua. Indonesia gabung karena kita butuh solusi inovatif. Bayangin kalau kamu lagi nyetir di jalan macet Jakarta, terus ada jalan tol baru yang lebih cepat—pasti pilih itu, kan?

Dalam konteks ini, Indonesia bisa ikut pengambilan keputusan langsung. Menlu Sugiono bilang, keanggotaan kita strategis buat kawal kebijakan BoP tetap pro-kemerdekaan Palestina. Nggak heran kalau PBNU dan tokoh seperti Gus Ipul dukung ini, karena pertimbangan kemanusiaan. Alasan ini bikin kita sadar, diplomasi lama perlu upgrade, dan Indonesia siap jadi bagian dari perubahan itu.

Alasan Ketiga: Butuh Solusi Instan untuk Krisis Kemanusiaan di Gaza

Alasan ketiga yang diungkap ISI adalah urgensi kemanusiaan: kita nggak bisa tunda lagi solusi buat hentikan bencana di Gaza. Ini termasuk genosida dan penderitaan rakyat Palestina yang udah kelewat batas. BoP dirancang buat stabilisasi cepat, seperti rekonstruksi infrastruktur dan bantuan humanitarian.

Menurut ISI, konflik ini udah makan korban terlalu banyak—puluhan ribu jiwa hilang sejak eskalasi terbaru. Indonesia, dengan pengalaman bantu korban bencana alam seperti tsunami Aceh, bisa kontribusi expertise di sini. Prabowo, saat bertemu Raja Yordania, tekankan komitmen kita buat solusi dua negara yang langgeng. Ini nggak cuma politik, tapi soal nyawa manusia.

Analogi sederhananya: kalau ada temen lagi sakit parah, kamu nggak nunggu besok buat bawa ke dokter, kan? Harus sekarang juga. Gabung BoP ini cara Indonesia bilang, “Kita nggak bisa diam aja.” Sekjen PBNU bilang, alasan utama adalah cegah korban lebih banyak. Jadi, ini campuran antara hati nurani dan strategi global.

Dampak Gabung BoP bagi Indonesia dan Dunia

Setelah bahas tiga alasan itu, yuk lihat dampaknya. Buat Indonesia, ini naikin posisi kita di mata dunia. Kita nggak lagi jadi penonton, tapi pemain kunci. Ekonomi juga bisa untung, karena stabilitas Timur Tengah berarti harga minyak lebih stabil, yang penting buat impor kita.

Di level global, BoP bisa jadi model baru buat selesaikan konflik lain, seperti di Ukraina atau Myanmar. Tapi, tentu ada tantangan: gimana kalau ada perbedaan pendapat antar anggota? Indonesia harus pintar navigasi, tetep pegang prinsip non-blok. ISI saranin, kita harus aktif dorong agenda pro-Palestina biar BoP nggak melenceng.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Nggak ada yang mulus, kan? Tantangan utama adalah koordinasi antar negara anggota BoP, yang punya latar belakang beda. AS di bawah Trump punya gaya sendiri, sementara Indonesia lebih ke multilateralisme. Harapannya, BoP bisa bikin roadmap jelas buat two-state solution dalam 5-10 tahun ke depan.

Buat pembaca, ini reminder kalau politik luar negeri kita relate banget ke kehidupan sehari-hari. Kalau Gaza damai, dunia lebih aman, dan itu bagus buat semua. Kamu bisa ikut kontribusi dengan dukung kampanye humanitarian atau ikuti berita terkini.

Kesimpulan: Langkah Berani Indonesia untuk Perdamaian Dunia

Intinya, ISI ungkap tiga alasan Indonesia bergabung dengan Board of Peace: implementasi UUD 1945 anti-penjajahan, atasi kebuntuan diplomasi, dan solusi instan buat krisis kemanusiaan. Ini bukti Indonesia nggak cuma bicara, tapi bertindak. Dengan BoP, harapan perdamaian di Palestina lebih cerah. Kalau kamu punya pendapat, share di komentar yuk! Atau, subscribe blog ini biar nggak ketinggalan update politik internasional.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *