Militer Israel akhirnya mengakui secara terbuka bahwa serangan ke Jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 71 ribu warga Palestina sejak Oktober 2023. Pejabat senior keamanan Israel menyatakan estimasi mereka mencapai sekitar 70 ribu korban tewas, tidak termasuk yang hilang atau terkubur puing. Pengakuan ini menandai perubahan sikap signifikan setelah lebih dari dua tahun menolak data Kementerian Kesehatan Gaza sebagai propaganda.
Angka resmi Gaza mencapai 71.660 hingga 71.667 tewas langsung akibat serangan, ditambah ribuan hilang di bawah reruntuhan. Lebih dari 171 ribu orang terluka. Pengakuan ini muncul pasca gencatan senjata Oktober 2025, di tengah akses kemanusiaan yang meningkat. Artikel ini mengupas latar belakang konflik, data korban terkini, alasan perubahan sikap Israel, analisis korban sipil, dampak kemanusiaan, reaksi dunia, serta implikasi jangka panjang bagi Gaza dan stabilitas regional.
Latar Belakang Konflik yang Berkepanjangan di Jalur Gaza
Jalur Gaza menjadi pusat ketegangan Israel-Palestina selama puluhan tahun. Wilayah padat penduduk ini diblokade sejak Hamas mengambil alih pada 2007. Konflik berulang meletus pada 2008, 2012, 2014, dan 2021, dengan korban sipil tinggi setiap kali.
Serangan besar terbaru dipicu oleh aksi Hamas pada 7 Oktober 2023. Kelompok itu menyerbu Israel selatan, menewaskan lebih dari 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang. Israel membalas dengan operasi militer besar-besaran yang berlangsung lebih dari dua tahun hingga gencatan senjata.
Israel menyebut operasinya bertujuan menghancurkan kemampuan militer Hamas dan membebaskan sandera. Sementara itu, otoritas Palestina dan kelompok hak asasi menuduh Israel melakukan pembalasan berlebihan yang menargetkan warga sipil. Blokade ketat memperburuk kondisi Gaza sebelum perang, dengan keterbatasan listrik, air, dan obat-obatan.
Konflik ini melibatkan aktor regional seperti Iran yang mendukung Hamas. Komunitas internasional berupaya mediasi berulang, namun gagal mencegah eskalasi besar. Pengakuan Israel baru-baru ini membuka babak baru dalam perdebatan tentang skala kerusakan.
Kronologi Serangan Israel sejak 7 Oktober 2023 hingga Gencatan Senjata
Operasi Israel dimulai dengan serangan udara intensif yang menghancurkan infrastruktur Hamas. Pasukan darat menyusul, menduduki sebagian besar Gaza utara dan selatan. Serangan berfokus pada terowongan bawah tanah dan markas Hamas.
Tahun 2024 menyaksikan gelombang serangan besar di Rafah dan kamp pengungsi. Korban melonjak tajam. Gencatan senjata sementara terjadi pada akhir 2023 dan November 2023 untuk pertukaran sandera, tetapi gagal bertahan lama.
Pada Oktober 2025, gencatan senjata permanen akhirnya tercapai melalui mediasi AS. Namun, pelanggaran dilaporkan lebih dari 1.200 kali. Serangan sporadis terus menewaskan ratusan orang pasca-gencatan senjata, termasuk 480-488 korban tambahan hingga Januari 2026.
Reruntuhan masih menutupi ribuan jenazah. Proses evakuasi puing berlangsung lambat karena keterbatasan alat berat dan keamanan. Kronologi ini menunjukkan perang berkepanjangan yang melampaui target awal Israel.
Catatan Korban Tewas dari Kementerian Kesehatan Gaza
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 71.660 hingga 71.667 warga tewas hingga akhir Januari 2026. Angka ini mencakup korban langsung dari serangan udara, tembakan, dan operasi darat. Sekitar 10.000 orang lagi diperkirakan terkubur di bawah reruntuhan.
Korban luka mencapai 171.428 orang, dengan ribuan mengalami cacat permanen. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Lebih dari 440 orang meninggal karena kelaparan akibat pembatasan bantuan.
Data ini mencakup nama, usia, dan nomor ID Israel untuk sebagian besar korban. Metodologi verifikasi melibatkan rumah sakit dan tim medis lapangan. PBB, WHO, dan kelompok hak asasi manusia menganggap data ini reliabel dan bahkan konservatif.
Selain itu, 248 jurnalis dan pekerja media tewas, bersama ratusan pekerja kemanusiaan termasuk staf UNRWA. Polio muncul kembali karena kerusakan sistem kesehatan. Angka ini terus bertambah meski gencatan senjata berlaku.
Pengakuan Militer Israel atas Angka Korban di Gaza
Pada akhir Januari 2026, pejabat senior Israel mengakui estimasi korban tewas sekitar 70.000 orang, tidak termasuk yang hilang. Mereka menyatakan data Kementerian Kesehatan Gaza “broadly accurate” atau “largely accurate” secara keseluruhan.
Ini menjadi pengakuan pertama setelah dua tahun menolak angka tersebut sebagai propaganda Hamas. Sebelumnya, Israel hanya merilis klaim jumlah militan tewas yang berubah-ubah, mulai dari 7.800 hingga 22.000 orang. Perdana Menteri Netanyahu pernah mengklaim rasio sipil-kombatan terendah dalam sejarah perang urban.
Pengakuan muncul setelah akses independen meningkat pasca-gencatan senjata. Proses penghilangan puing memungkinkan verifikasi lebih baik. Israel kini meninjau proporsi sipil versus pejuang.
Juru bicara militer Israel menyatakan detail yang dipublikasikan bukan data resmi IDF, tetapi briefing internal mengonfirmasi kesesuaian angka. Perubahan sikap ini menimbulkan pertanyaan tentang kredibilitas pernyataan sebelumnya.
Perbandingan Korban Sipil dan Pejuang Hamas
Data internal Israel yang bocor pada Agustus 2025 menunjukkan lebih dari 80 persen korban adalah warga sipil. Estimasi resmi Israel sebelumnya menyiratkan dua pertiga korban non-kombatan jika 22.000 militan tewas dari total 70.000.
Netanyahu mengklaim rasio 1:1 atau lebih baik. Namun, laporan rahasia IDF menunjukkan proporsi sipil jauh lebih tinggi. Kementerian Kesehatan Gaza tidak merinci breakdown, tetapi catatan nama menunjukkan mayoritas perempuan dan anak.
Lebih dari 1.000 warga tewas di titik distribusi bantuan pada 2025, menurut laporan independen. Sistem AI targeting Israel seperti Lavender dituduh menandai ribuan target sipil. Pengakuan terbaru memicu tuntutan transparansi penuh tentang aturan tembak dan verifikasi target.
Dampak Kemanusiaan yang Menghancurkan bagi Penduduk Gaza
Sembilan puluh persen dari 2,1 juta penduduk Gaza mengungsi. Lebih dari 60 persen bangunan rusak atau hancur, termasuk rumah sakit, sekolah, dan masjid. Krisis kelaparan meluas, dengan ratusan kematian karena malnutrisi.
Sistem kesehatan kolaps. Ribuan anak mengalami trauma psikologis berat. Penyakit menular seperti polio menyebar karena sanitasi buruk. Bantuan kemanusiaan terhambat oleh blokade dan serangan sporadis.
Rekonstruksi diperkirakan membutuhkan puluhan miliar dolar. Dampak jangka panjang mencakup hilangnya generasi muda, kerusakan ekonomi, dan ketidakstabilan sosial. Penduduk Gaza menghadapi tantangan bertahan hidup sehari-hari di tengah reruntuhan.
Reaksi Masyarakat Internasional dan Lembaga Global
PBB, ICJ, dan ICC menyelidiki tuduhan genosida dan kejahatan perang. Negara-negara Barat mendesak investigasi independen, sementara negara Arab dan Global South menuntut akuntabilitas lebih kuat.
Amerika Serikat mendorong rekonstruksi sebagai bagian fase kedua gencatan senjata. Uni Eropa mengawasi pembukaan kembali perbatasan Rafah. Kelompok hak asasi seperti Amnesty International dan Human Rights Watch menyambut pengakuan Israel sebagai langkah awal menuju transparansi.
Reaksi campuran muncul di Israel sendiri, dengan Haaretz mempertanyakan implikasi terhadap tuduhan lain seperti aturan tembak dan pelecehan tahanan. Komunitas internasional menekankan pentingnya bantuan berkelanjutan dan perlindungan sipil.
Implikasi Pengakuan Ini bagi Masa Depan Konflik dan Rekonstruksi
Pengakuan ini membuka peluang dialog tentang rekonstruksi Gaza. Namun, Israel menghubungkan bantuan dengan pelucutan senjata Hamas. Debat hukum di pengadilan internasional kemungkinan intensif.
Implikasi geopolitik mencakup ketegangan dengan sekutu dan tekanan domestik di Israel. Rekonstruksi memerlukan koordinasi multilateral untuk menghindari korupsi dan memastikan bantuan tepat sasaran.
Masa depan Gaza bergantung pada komitmen perdamaian jangka panjang. Tanpa itu, risiko eskalasi baru tetap tinggi. Pengakuan ini bisa menjadi titik balik jika diikuti tindakan konkret.
Pengakuan Israel bahwa serangan ke Jalur Gaza tewaskan lebih dari 71 ribu warga Palestina menandai momen penting dalam konflik berkepanjangan ini. Data akurat, analisis korban, dan dampak kemanusiaan menekankan urgensi solusi berkelanjutan. Masyarakat internasional harus mendorong akuntabilitas dan rekonstruksi agar Gaza bangkit kembali.






