Pernahkah Anda membayangkan betapa panasnya ruang oval di Gedung Putih saat para pemimpin dunia berdebat soal perang dan damai? Salah satu topik paling awet selama dua dekade terakhir adalah hubungan segitiga antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Di tengah pusaran ini, ada satu nama yang tak pernah absen: Benjamin Netanyahu.
Perdana Menteri Israel yang akrab disapa “Bibi” ini dikenal memiliki satu misi besar yang konsisten, yakni melumpuhkan program nuklir Iran. Namun, menariknya, meski ia telah melobi berbagai Presiden AS dari era George W. Bush hingga Joe Biden, kabarnya hanya Donald Trump yang benar-benar memberikan lampu hijau untuk ide-ide konfrontasi langsung yang ekstrem terhadap Teheran.
Mengapa para pendahulu dan penerus Trump cenderung mengerem ambisi Netanyahu? Apa yang membuat hubungan Netanyahu dan Trump begitu “spesial” dalam konteks kebijakan terhadap Iran? Mari kita bedah dinamika politik internasional ini dengan bahasa yang lebih santai dan mudah dipahami.
Obsesi Panjang Netanyahu Terhadap Iran
Bagi Benjamin Netanyahu, Iran bukan sekadar lawan politik, melainkan ancaman eksistensial bagi Israel. Dalam berbagai forum internasional, termasuk di depan PBB, ia berkali-kali memperingatkan bahwa Iran hanya butuh waktu singkat untuk memiliki bom nuklir.
Bibi percaya bahwa diplomasi saja tidak akan cukup. Baginya, satu-satunya cara untuk menghentikan ambisi nuklir Iran adalah dengan tekanan militer yang nyata atau sanksi yang melumpuhkan total. Inilah yang ia “jajakan” kepada setiap Presiden AS yang menjabat. Ia ingin AS, sebagai kekuatan militer terbesar dunia, berada di barisan depan jika serangan fisik ke fasilitas nuklir Iran harus dilakukan.
Namun, membujuk seorang Presiden AS untuk memulai perang baru di Timur Tengah bukanlah perkara gampang. AS punya trauma panjang dengan Perang Irak dan Afghanistan, sehingga ide untuk menyerang Iran seringkali dianggap sebagai “mimpi buruk” logistik dan geopolitik oleh para jenderal di Washington.
Era George W. Bush: Penolakan di Tengah Perang Irak
Banyak orang mengira George W. Bush, yang meluncurkan kampanye “War on Terror”, akan dengan senang hati membantu Israel menyerang Iran. Nyatanya tidak demikian. Pada akhir masa jabatannya, Bush justru menolak permintaan rahasia dari Netanyahu (dan pendahulunya, Ehud Olmert) untuk bantuan militer guna menyerang fasilitas nuklir Iran di Natanz.
Alasan Bush cukup logis saat itu:
-
Kelelahan Perang: Militer AS sudah kewalahan menangani pemberontakan di Irak dan Afghanistan.
-
Efek Domino: Serangan ke Iran dikhawatirkan akan memicu serangan balasan terhadap tentara AS yang berada di perbatasan Irak-Iran.
-
Ketidakpastian Hasil: Intelijen AS saat itu belum yakin bahwa serangan udara bisa menghancurkan total program nuklir Iran yang terkubur dalam di bawah tanah.
Jadi, meskipun Bush memasukkan Iran dalam daftar “Axis of Evil”, ia tetap memilih jalan sanksi daripada bom.
Dinginnya Hubungan dengan Barack Obama
Hubungan antara Netanyahu dan Barack Obama mungkin bisa dibilang sebagai salah satu yang paling retak dalam sejarah AS-Israel. Obama percaya pada kekuatan diplomasi dan negosiasi. Puncaknya adalah kesepakatan nuklir 2015 yang dikenal sebagai JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action).
Netanyahu murka. Ia bahkan sampai berpidato di depan Kongres AS tanpa undangan resmi dari Gedung Putih hanya untuk mengkritik kebijakan Obama. Bagi Netanyahu, Obama sedang “menjinakkan macan dengan daging segar” yang hanya akan membuat Iran makin kuat di masa depan. Di era ini, opsi serangan militer hampir sepenuhnya tertutup karena AS fokus pada pemulihan hubungan diplomatik.
Donald Trump: Sang Game Changer
Semuanya berubah saat Donald Trump naik takhta. Berbeda dengan para pendahulunya, Trump memiliki insting “transaksional” dan sangat dipengaruhi oleh penasihat yang berhaluan keras terhadap Iran, seperti Mike Pompeo dan John Bolton.
Ada beberapa alasan mengapa hanya Trump yang tampak setuju dengan garis keras Netanyahu:
-
Keluar dari JCPOA: Trump memenuhi janji kampanyenya untuk merobek kesepakatan nuklir Obama, sebuah langkah yang sangat diinginkan Netanyahu.
-
Pembunuhan Qasem Soleimani: Langkah Trump memerintahkan pembunuhan jenderal top Iran, Qasem Soleimani, pada tahun 2020 adalah bukti nyata bahwa ia berani mengambil risiko konfrontasi militer langsung.
-
Hubungan Personal: Trump dan Netanyahu memiliki basis konstituen yang mirip dan saling mendukung secara politik.
Bagi Trump, menekan Iran adalah bagian dari strategi “Maximum Pressure”. Meskipun tidak terjadi perang terbuka skala penuh, di era Trump-lah Netanyahu merasa memiliki mitra yang benar-benar siap menekan pelatuk jika diperlukan.
Mengapa Menyerang Iran Begitu Berisiko bagi AS?
Meskipun Netanyahu terus mendesak, para analis militer AS selalu memperingatkan risiko besar. Iran bukanlah Irak atau Libya. Mereka memiliki teknologi rudal yang canggih, jaringan proksi yang luas (seperti Hezbollah di Lebanon dan Houthi di Yaman), serta kemampuan untuk menutup Selat Hormuz—jalur nadi minyak dunia.
Jika AS atau Israel menyerang, Iran bisa membalas dengan:
-
Serangan rudal ke pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah.
-
Menginstruksikan proksi mereka untuk menyerang Israel dari berbagai arah.
-
Menyabotase infrastruktur minyak yang bisa memicu krisis ekonomi global.
Inilah sebabnya mengapa banyak Presiden AS, kecuali Trump yang cenderung impulsif, sangat berhati-hati dalam menanggapi permintaan Netanyahu.
Bagaimana dengan Joe Biden?
Di bawah kepemimpinan Joe Biden, AS kembali ke jalur diplomasi yang lebih hati-hati, meskipun tetap memberikan dukungan keamanan penuh kepada Israel. Biden mencoba menghidupkan kembali kesepakatan nuklir, namun situasinya kini jauh lebih rumit karena ketegangan yang sudah terlanjur tinggi di kawasan tersebut.
Netanyahu pun tetap pada posisinya: ia tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, dengan atau tanpa bantuan AS. Namun, tanpa dukungan penuh dari Washington seperti yang ia rasakan di era Trump, langkah militer besar-besaran tetap menjadi pilihan yang sangat berisiko tinggi bagi Israel sendirian.
Kesimpulan
Benjamin Netanyahu telah melewati banyak kepemimpinan di AS, namun konsistensinya terhadap Iran tidak pernah luntur. Sejarah mencatat bahwa hanya Donald Trump yang benar-benar selaras dengan visi keras Netanyahu. Presiden lainnya cenderung melihat Iran melalui kacamata stabilitas kawasan dan risiko ekonomi global yang jauh lebih kompleks.
Dinamika ini menunjukkan bahwa dalam politik luar negeri, hubungan personal antara pemimpin negara bisa mengubah arah sejarah secara drastis. Apakah kedepannya akan ada Presiden AS lain yang “setuju” dengan Netanyahu? Hanya waktu yang bisa menjawab, terutama dengan melihat peta politik AS yang terus berubah.





