Beranda / Gaya Hidup / Kenapa Emak-Emak Indonesia Suka Kasih Gula dan Madu ke Bayi? Ini Penyebabnya

Kenapa Emak-Emak Indonesia Suka Kasih Gula dan Madu ke Bayi? Ini Penyebabnya

Kenapa Emak-Emak Indonesia Suka Kasih Gula dan Madu ke Bayi? Ini Penyebabnya

Hai, para moms dan calon moms! Kalau kamu orang Indonesia, pasti pernah dengar cerita dari nenek atau tetangga soal kasih madu atau air gula ke bayi baru lahir biar “manis” hidupnya. Kebiasaan ini memang masih lumrah banget di masyarakat kita, terutama di kalangan emak-emak RI. Tapi, tahukah kamu kalau ini bisa berdampak buruk buat si kecil? Berdasarkan riset terbaru dari BRIN, praktik ini ternyata salah satu penyebab rendahnya pemberian ASI eksklusif di Indonesia.

Bayangkan saja, di tengah anjuran dokter untuk ASI eksklusif selama enam bulan pertama, masih banyak bayi yang langsung dikenalin sama rasa manis dari gula atau madu. Ini bukan cuma soal tradisi, tapi juga faktor pendidikan, pekerjaan, dan budaya yang bikin kebiasaan ini bertahan. Di artikel ini, kita bakal bahas penyebabnya secara santai, plus bahayanya yang sering diabaikan. Jadi, yuk simak biar kita bisa lebih bijak dalam merawat bayi. Siapa tahu, info ini bisa bantu kamu atau saudara yang lagi hamil untuk hindari kesalahan umum ini.

Menurut data dari Pusat Riset Kependudukan BRIN, sekitar 58% anak di salah satu kabupaten di Jawa Tengah nggak dapat ASI eksklusif karena praktik seperti ini. Penelitiannya melibatkan ratusan ibu, dan hasilnya menunjukkan kalau memberikan gula dan madu pada bayi bisa tingkatkan risiko kegagalan ASI hingga hampir enam kali lipat. Kok bisa gitu? Karena bayi yang udah kenal rasa manis cenderung rewel kalau cuma ASI aja, dan ini bikin moms cepat nyerah. Tapi tenang, kita bakal kupas tuntas mulai dari akar masalahnya.

Apa Itu Praktik Pemberian Gula dan Madu pada Bayi?

Sebelum kita dalami penyebabnya, yuk pahami dulu apa sih yang dimaksud dengan kebiasaan ini. Di Indonesia, banyak emak-emak yang langsung kasih air gula atau madu ke bayi baru lahir, bahkan sebelum ASI pertama keluar. Ini disebut pralakteal, alias pemberian makanan atau minuman selain ASI di hari-hari awal kehidupan bayi. Nggak cuma di desa, di kota pun masih ada yang lakuin ini, meski udah banyak kampanye kesehatan.

Contohnya, bayi baru lahir nangis terus, lalu dikasih tetes madu biar tenang. Atau air gula dicampur susu formula karena dianggap bisa bikin bayi lebih kenyang. Padahal, ASI aja udah cukup lengkap nutrisinya. Kebiasaan ini sering diwariskan turun-temurun, dan banyak yang nggak sadar kalau ini bisa ganggu sistem pencernaan bayi yang masih rapuh. Bayangkan bayi kayak mesin baru yang lagi diuji coba, kalau langsung dikasih “bahan bakar” salah, bisa mogok kan?

Riset BRIN di Kabupaten Karanganyar menunjukkan bahwa 36% ibu dalam sampel mereka lakuin pralakteal ini. Ini angka yang cukup tinggi, dan bikin kita mikir: kenapa sih masih banyak yang ngelakuin? Jawabannya ada di faktor sosial dan budaya yang kuat banget di masyarakat kita.

Penyebab Utama Kebiasaan Memberikan Gula dan Madu pada Bayi di Indonesia

Kebiasaan ini nggak muncul begitu aja. Ada banyak alasan di baliknya, mulai dari yang sederhana seperti ikut-ikutan keluarga, sampai faktor ekonomi dan pendidikan. Berdasarkan penelitian BRIN yang dipimpin Yuli Astuti, ada beberapa penyebab utama yang bikin emak-emak RI terbiasa kasih gula dan madu ke bayi. Kita bahas satu per satu ya, biar lebih mudah dipahami.

Faktor Pendidikan dan Pekerjaan Ibu

Salah satu penyebab terbesar adalah tingkat pendidikan moms. Riset menunjukkan kalau ibu dengan pendidikan SMP atau lebih rendah punya kemungkinan 8 kali lebih besar untuk nggak kasih ASI eksklusif, termasuk karena pralakteal. Kenapa? Karena akses info kesehatan mereka terbatas. Mereka mungkin nggak tahu kalau madu bisa bahaya, atau gula bisa bikin bayi kecanduan manis.

Selain itu, ibu yang bekerja juga berisiko tinggi. Anak dari moms pekerja punya peluang 6 kali lebih besar nggak dapat ASI eksklusif. Bayangkan moms yang harus balik kantor setelah cuti melahirkan, seringkali mereka kasih susu formula dicampur gula biar bayi nggak rewel di daycare. Ini bukan salah moms sepenuhnya, tapi karena dukungan dari tempat kerja masih minim, seperti ruang pompa ASI yang layak. Analoginya, kalau moms lagi capek kerja, lebih gampang ambil jalan pintas daripada pertahankan ASI murni.

Keyakinan Budaya dan Tradisi Keluarga

Ini nih yang paling kuat: budaya! Di banyak daerah Indonesia, kasih madu atau gula ke bayi dianggap bawa keberuntungan. Kata riset BRIN, rasa manis diyakini bikin hidup anak “manis” di masa depan, seperti doa buat kebahagiaan. Misalnya, di Jawa, ada tradisi kasih madu saat selamatan bayi baru lahir. Atau di Sumatra, air gula dikasih biar bayi kuat dan nggak lemas.

Tradisi ini sering datang dari nenek atau mertua yang bilang, “Dulu anakku juga gini, sehat-sehat aja kok.” Jadi, moms muda ikut-ikutan tanpa mikir risiko. Padahal, zaman dulu info kesehatan nggak sebanyak sekarang. Ini kayak warisan yang manis tapi berbahaya, dan susah diubah karena melibatkan emosi keluarga.

Pengaruh Gender, Ekonomi, dan Lingkungan Sosial

Menariknya, riset juga nemu kalau anak laki-laki lebih sering dapat pralakteal daripada perempuan. Kenapa? Karena persepsi bahwa cowok sebagai penerus keluarga harus “kuat” sejak kecil, jadi dikasih makanan tambahan biar gemuk dan sehat keliatan. Ini konstruksi gender yang masih kental di masyarakat kita.

Selain itu, rumah tangga berpenghasilan rendah lebih rentan. Mereka mungkin nggak punya akses ke susu formula mahal, jadi ganti dengan gula murah atau madu rumahan. Lingkungan juga berpengaruh: kalau tetangga lakuin, moms ikut biar nggak dianggap aneh. Negosiasi dalam keluarga pun jadi faktor, seperti suami atau mertua yang ngotot ikut tradisi lama.

Intinya, penyebab ini saling terkait. Nggak cuma satu faktor, tapi campuran yang bikin kebiasaan ini bertahan. Tapi, dengan edukasi yang tepat, kita bisa ubah perlahan.

Bahaya Memberikan Gula dan Madu pada Bayi yang Harus Kamu Tahu

Sekarang, kita masuk ke bagian penting: bahayanya! Banyak emak-emak nggak sadar kalau kebiasaan ini bisa bikin masalah serius buat bayi. Dari riset kesehatan seperti dari IDAI dan CDC, ada risiko nyata yang bisa mengancam nyawa si kecil. Yuk, kita breakdown biar jelas.

Risiko Botulisme dari Madu, Ancaman Serius buat Bayi

Madu alami memang sehat buat dewasa, tapi buat bayi di bawah 1 tahun? Bahaya banget! Madu sering mengandung spora bakteri Clostridium botulinum, yang bisa sebabkan botulisme—keracunan yang serang sistem saraf. Bayi belum punya sistem pencernaan matang, jadi spora ini bisa berkembang jadi racun.

Gejalanya? Bayi lemas, susah menelan, konstipasi, bahkan lumpuh napas kalau parah. Di AS, ada ratusan kasus tiap tahun gara-gara madu. Di Indonesia, meski jarang dilaporkan, IDAI tegas larang madu buat bayi di bawah 12 bulan. Bayangkan, cuma tetes madu bisa bikin bayi masuk RS. Ngeri kan?

Masalah Gigi Rusak dan Risiko Obesitas Sejak Dini

Gula dan madu sama-sama tinggi gula, yang bisa nempel di gusi bayi dan jadi sarang bakteri. Hasilnya? Gigi baru tumbuh langsung rusak, atau yang disebut gigi gigis. Bayi yang biasa manis juga bakal tolak makanan tawar, seperti ASI atau MPASI sehat.

Lama-lama, ini bisa picu obesitas. Riset dari Alodokter bilang, kebiasaan manis sejak bayi tingkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, bahkan kanker saat dewasa. Contohnya, bayi yang dikasih air gula tiap hari bisa kecanduan, dan moms kesulitan kasih sayur atau buah nanti.

Gangguan pada ASI Eksklusif dan Kesehatan Jangka Panjang

Seperti yang disebut BRIN, pralakteal bikin ASI eksklusif gagal. Bayi yang udah kenal manis cenderung kurang minum ASI, yang artinya nutrisinya kurang optimal. ASI kan punya antibodi alami yang lindungi bayi dari infeksi. Kalau diganti gula, imunitasnya lemah, mudah sakit diare atau infeksi saluran napas.

Plus, ini bisa ganggu bonding moms dan bayi. Bayi rewel karena nggak kenyang ASI, moms stres, dan siklus buruk berlanjut. Jangka panjang, anak bisa punya masalah pertumbuhan, seperti stunting yang masih tinggi di RI.

Alternatif Sehat untuk Menggantikan Gula dan Madu pada Bayi

Tenang, moms! Kalau kebiasaan ini bahaya, ada alternatif yang lebih aman dan sehat. Fokus utama tetaplah ASI eksklusif selama enam bulan pertama. ASI udah manis alami dari laktosa, cukup buat bayi.

Untuk tambahan rasa saat MPASI mulai usia 6 bulan:

  • Gunakan buah segar seperti pisang atau pepaya yang dihaluskan. Ini gula alami tanpa risiko.
  • Hindari pemanis tambahan sama sekali di bawah 1 tahun, sesuai anjuran WHO.
  • Kalau bayi rewel, coba peluk atau nyanyi daripada kasih manis. Atau, konsultasi ke dokter anak buat cek kalau ada masalah lain.

Contoh menu sederhana: Bubur ASI dengan tambah wortel rebus, yang punya rasa manis alami. Ini lebih bergizi dan aman.

Cara Mengubah Kebiasaan Ini di Keluarga Kamu

Ubah tradisi nggak gampang, tapi bisa kok! Mulai dari edukasi diri sendiri lewat baca artikel atau ikut kelas parenting. Bagikan info ini ke mertua atau suami dengan santai, seperti “Bu, sekarang dokter bilang madu bahaya loh buat bayi kecil.”

Ikut komunitas moms online atau posyandu untuk dukungan. Pemerintah juga punya program promosi ASI, manfaatkan itu. Kalau moms bekerja, minta dukungan dari kantor untuk pompa ASI. Ingat, perubahan dimulai dari satu keluarga, dan bisa berdampak besar buat generasi selanjutnya.

Kesimpulan: Waktu untuk Lebih Bijak dalam Memberikan Gula dan Madu pada Bayi

Intinya, kebiasaan emak-emak RI kasih gula dan madu ke bayi datang dari pendidikan rendah, pekerjaan, tradisi budaya, dan faktor gender-ekonomi. Tapi, bahayanya nyata: dari botulisme, gigi rusak, obesitas, sampai ganggu ASI eksklusif. Yuk, kita putus rantai ini dengan pilih alternatif sehat dan edukasi keluarga.

Kalau lagi hamil atau punya bayi, coba diskusi dengan dokter ya. Share artikel ini ke teman moms biar lebih banyak yang tahu. Bersama, kita bisa bikin generasi Indonesia lebih sehat!

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *